LIBYA MENENTUKAN NASIB EROPA

2 Apr 2011

Krisis yang tidak berkesudahan di Libya mengundang keprihatinan dan reaksi keras negara-negara di Dunia. Baru baru ini para menteri luar negeri Eropa berkumpul dan menggelar sidang untuk memutuskan larangan terbang di zona udara Libya, sedangkan pada saat bersamaan Libya merupakan negara pemasok utama minyak ke benua Eropa. Selain sidang para menteri luar negeri Uni Eropa atas undangan Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, menteri pertahanan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang beranggotakan 27 negara, juga menggelar sidang terpisah. Dalam sidang itu juga dibahas larangan terbang di atas zona Libya.

Tak diragukan lagi. Libya menjadi perhatian khusus bagi Uni Eropa. Komisaris Energi Uni Eropa, Guenther Oet-tinger, Senin lalu, mengakui bahwa instabilitas di Libya berpengaruh pada kondisi minyak mentah di benua Eropa.

Menurut data, 82 persen minyak mentah Eropa diekspor dari Libya. Rezim Gaddafi mengirim 32 persen minyak ke Italia, 14 persen ke Jerman dan 10 persen ke Perancis. Selain negara-negara itu, Libya juga mengirim lima persen ke AS. Lebih dari itu, banyak perusahaan minyak besar di dunia beraktivitas di Libya. Di antara perusahaan-perusahaan itu adalah British Petroleum (BP), Shell dan Exxon Mobil.

Libya juga termasuk anggota Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) yang setiap hari mengirim 1,6 juta barel minyak perhari. Sejak terjadinya instabilitas di Libya, proses ekspor minyak dari Libya terhenti. Kondisi Libya yang kian memburuk juga berdampak besar pada harga bensin di benua Eropa. Tidak hanya itu, para analis juga meyakini bahwa instabilitas di Libya akan berdampak buruk pada harga listrik dan gas di negara-negara anggota Uni Eropa.

Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara tengah bergejolak. Pada umumnya, negara-negara yang bergejolak selama ini menjadi mitra dekat Barat. Tunisia, Mesir dan Libya disebut-sebut sebagai di antara negara-negara di kawasan yang paling menguntungkan Barat. Akan tetapi di antara ketiga negara tersebut adalah Libya yang mempunyai posisi paling strategis di hadapan Barat, khususnya Eropa. Untuk itu, Eropa menaruh perhatian khusus pada Libya. Goncangan instabilitas di Libya sangat dirasakan di benua Eropa. Bahkan sejumlah analis memperkirakan Barat akan menggunakan NATO untuk menyerang Libya. Ancaman itu tidak ditujukan pada negara-negara bergejolak lainnya, tapi berlaku pada Libya. Ini menunjukkan posisi spesial Libya di mata Barat.

Di tengah kondisi sulit seperti ini, Barat masih kebingungan mengambil sikap jelas terkait Libya. Barat juga berusaha mengangkat isu hak asasi manusia (HAM) sebagai alat untuk intervensi pada urusan dalam negeri Libya. Aksi protes luas masyarakat di Libya menunjukkan adanya problema HAM di negara ini. Meski protes masyarakat Libya berada pada tempatnya, tapi instabilitas di negara ini riskan disalahgunakan Barat untuk mengamankan sumber-sumber minyak di Libya. Kini, Barat tengah mempertimbangkan menjadikan Libya seperti Irak dan Afghanistan. (irib)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post